Selasa, 20 Mei 2014

Process for beautiful ending

Segala sesuatu yang indah itu membutuhkan proses yang panjang, membutuhkan kesabaran, kelapangan hati, keikhlasan. Coba kita amati, misalnya kupu-kupu, sebelum dia berubah menjadi kupu-kupu yang inah dan cantik, dia adalah ulat, yang kebanyakan tidak disukai orang karena dianggap sebagai pengganggu, hama. Tetapi dengan ulat menjadi kepompong yang selama dia berada di dalam kepompong dia tidak makan, minum, dia dengan sabar menanti melakukan itu semua. Allah dengan segala kebesaran-Nya membalas semua itu dengan merubahnya menjadi seekor kupu-kupu yang cantik. Contoh lain adalah ayam betina yang sabar ketika mengerami telurnya. Selama 21 hari dia mengerami telur, melerakan waktunya, dengan sabar dan ikhlas melindungi dan menjaga telur-telur tersebut dan pada akhirnya anak-anak ayam menetas dengan keadaan baik dan lucu. Jika kita mampu berkaca dengan itu semua, maka kita akan memiliki semangat tinggi dalam meghadapi lika liku kehidupan. Jika kita sekarang dalam kesulitan besar, maka tetaplah bersabar, senantiasa bertawakal dan berdo'a kepada-Nya. Jangan sampai ketika kita mengalami permasalahan kita lampiaskan pada hal-hal yang tidak baik. Ubahlah kesulitan tadi sebagai peluang besar bagi anda untuk meraih kesuksesan. Kesulitan itu adalah tantangan yang dipercayakan kepada kita, bahwasanya kita mampu menyelesaikannya. Tidak ada jalan buntu, jalan terobosan masih banyak, sekalipun di jalan itu kita mendapati rintangan, cobalah untuk bangkit secara perlahan. Walaupun langkah kaki ini masih berjalan tertatih tatih. Optimisme dan kesabaran adalah kunci umtuk melunakkan permasalahan. Keep spirit guys, in the world nothing is impossible. Give the best for your life, be useful for other people.

Perdebatan ulama perihal kehujjahan hadist Dha'if

Hukum meriwayatkan hadist dha'if :
Boleh, selama bukan hadist maudhu' ulama membolehkan meriwayatkan hadist dhaif meskipun tanpa menjelaskan status kedha'ifannya. Akan tetapi kebolehan tadi tidaklah mutlak, dengan tiga syarat :
1. Tidak berkaitan dengan kaidah
2. Tidak berkaitan dengan syariat (halal & haram)
yang terkait dengan (fadla'ul a'mal) dan cerita-cerita.
Ketika mengamalkan hadist dhaif sebaiknya menggunakan kalimat pasif.
Hukum mengamalkan hadist dhaif terbagi menjadi tiga:
1. Melarang mengamalkan hadist dha'if secara mutlak (terkait apapun hadist tersebut). Tokoh yang mendukung adalah Yahya bin Ma'in(salah satu gurunya imam bukhari), Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Hazm.
2. Membolehkan secara mutlak
Tokoh pendukung pendapat ini Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Dawud. Imam Ahmad bin Hanbal, bila kita melihat madzhabnya hanya berorientasi pada riwayat. Imam Abu Hanifah (banyak ro'yunya). Mengingat bahwasnya pada waktu Imam Ahmad bin Hanbal hanya ada 2 penggolongan hadist yaitu sahih dan dhaif. Kemungkinan yang dimaksud Imam Hanbal adalah hadist sahih ghairihi.
3. Pendapat jumhur ulama, membolehkan mengamalkan hadist dha'if ketika hadist itu berhubungan dengan fadla'ul a'mal, cerita-cerita, dengan memenuhi tiga syarat:
1. Hadist tersebut tidak terlalu dha'if artinya
 a. bukan karena perawinya orang yang dituduh dusta
 b. bukan karena perawinya itu orang yang sangat buruk hafalannya.
 c. perawinya itu bukan orang yang fasik.
3.Ketika mengamalkan hadist dha'if tidak boleh meyakininya itu pasti datangnya dari Rasul. Akan tetapi mengamalkannya sebagai bentuk kehati-hatian. 

Minggu, 18 Mei 2014

Alam ku..

Kau ciptakan kami dengan kesempurnaan dibanding makhluk-Mu yang lain, Kau berikan kami kebebasan yang sebebas bebasnya untuk hidup di alam semesta ini, Kau berikan kami berlimpah ruah segala macam kebutuhan kami, Kau biarkan kami menggunakannya sesuka hati kami. Sunggu Maha Suci Allah yang telah memberikan kesempatan kepada kami melihat indahnya dunia ini. Sungguh Dia Maha Pemurah, tapi apakah seindah seperti dahulu kala, semakmur dahulu kala. Mari kita berdiam diri sejenak, coba renungkan? kapan terakhir kita rasakan udara segar dilingkungan rumah kita? (bukan lingkungan pedesaan). Kapan kita dengar suara burung-burung kecil dipepohonan disaat pagi hari kita membuka mata? Kapan terakhir kali kita menjumpai sungai yang airnya jernih dan bersih?
Coba kita renungkan, pernah kah kita memanfaatkan lingkungan alam ini demi keuntungan finansial sendiri, tanpa memperhatikan keseimbangan lingkungan ekosistem makhluk sekitar kita. Jangan mengeluh jika alam menjadi murka, jika bencana itu melanda. Andaikan binatang dan tumbuhan bisa berbicara pasti akan banyak sekali cercaan dari mulut mereka. Boleh mempergunakan alam semesta ini untuk kepentingan khalayak umum, namun tetap harus memperhatikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan. Kita hidup di negara Indonesia, negara yang kaya akan hasil alamnya, namun mengapa kita sering mengimpor produk dari negara lain. Harusnya kita lebih bangga dengan hasil produksi olahan negara sendiri. Namun hal ini bersebrangan dengan trend masa kini yang mayoritas bangga mengkonsumsi produksi negara lain.
Mungkin banyak yang diselimuti rasa dilema mengapa permasalahan alam tak kunjung usai. Ingat alam mampu bersahabat dengan kita. Mereka telah memberikan kontribusi banyak bagi kelangsungan hidup kita, namun kita jarang bahkan tidak pernah memberikan imbal balik positif kepada mereka. Lebih parah lagi sering kali tangan-tangan manusia yang tak bertanggung jawab merampas habis pohon-pohon dihutan, tanaman dan binatang yang dieksploitasi secara besar besaran. Andai kita semua memiliki kesadaran diri, betapa berharganya alam ini. Cukup dimulai dari hal-hal kecil, membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya, tidak membuang sampah disungai atau di laut. Penanaman jiwa peduli lingkungan harus ditanamkan sejak dini. Ingat alam ini adalah warisan berharga bagi generasi kita. Jangan memetingkan ego sendiri, karena kita tidak hidup sendiri, berfikirlah apa yang akan terjadi dengan alam ini di 20 tahun yang akan datang, mampukah anak cucu kita mengetahui betapa indahnya alam ini dengan keanekaragaman makhluk didalamnya.






~Anestia~  
Pernahkah sahabat dibingungkan oleh sebuah kata, tapi dalam kata itu mengandung banyak makna, luas cakupannya, bukan hanya itu saja disetiap pembahasan masih banyak cabangnya, cabang itu juga perlu membutuhkan bahasan yang lebih dalam. Mungkin akan terasa nyaman jika kita belajar menyukai kata tersebut, tetapi sulit untuk menumbuhkan rasa suka terhadap kata itu. Mohon maaf jika kali ini condong kepada curhat, sekali kali sharing tidak masalah kan...???
Ada kala untuk mencapai sesuatu seseorang harus bersusah payah, mengeluarkan keringat, jatuh bangun, terkadang sampai meneteskan air mata. Tetapi ada pula seseotang yang dalam mencapai sesuatu dengan mudahnya. Semua itu telah terencanakan, terbaik bagi pribadi masing-masing. Kita pasti akan merasa bahagia dan puas jika hasil akhir sesuai dengan pengorbanan yang kita keluarkan selama ini. Niatan yang kuat pasti mampu mengalahkan segala rintangan yang menghadang. Tidak dipungkiri jika dalam kondisi stabil (kaum pemuda) kita mampu menjadi pribadi yang mampu memanage diri kita namun disaat kita mengalami kegoncangan, atau galau dan semacamnya itu, musnah sudah motivasi yang ada dalam diri kita. Merenung dan berdiam diri sejenak (mengenali diri kita lagi, berinstropeksi kembali) mampu mengembalikan diri kita pada kondisi emosional yang stabil. Menarik nafas dalam dalam dan membuangnya perlahan-lahan diteruskan dengan memperbanyak istighfar mampu menjadikan diri kita kuat kembali, menjalani semua. Motivasi terkuat bukan dari orang lain, orang lain adalah pendukung bagi motivasi itu sendiri. Sementara motivasi terbesar itu ada pada diri kita sendiri. Seberapa pun banyaknya motivasi yang kita terima, jika tidak tertanam pada hati, jika tidak kita yang memelihara, akan mati dalam diri kita dengan sia-sia.

Second Ink

Setiap insan mampu merubah dirinya menjadi sosok baru bagi orang-orang disekitarnya. Ada yang memilih menjadi hitam, ada yang memilih menjadi putih, ada pula yang memilih menjadi berwarna. Alangkah lebih baik jika sosok baru itu muncul dengan perhiasaan yang mampu membuat orang-orang takjub. Perhiasaan ini tidak akan mampu dibeli dengan uang, tak mampu setiap orang memilikinya dengan sempurna, namunsetiap orang mampu memiliki kewenangan untuk berusaha mendapatkannya bahkan sangat diwajibkan. Perhiasaan itu berupa akhlak terpuji. Masih ingatkah sahabat dengan pepatah jawa "Ajining diri saka lathi, ajining salira saka busana." Namun sayang sekali sepertinya pepatah tersebut telah menjadi kenangan masa lalu. Masuknya budaya luar ke dalam kehidupan masyarakat mampu melunturkan pepatah tadi, padahal filosofi pepatah tersebut benar apa adanya. Sering kali kita dibuat lalai dengan mode-mode barat, kita lupa akan jati diri kita. Sahabat kita memerlukan alat filter jitu untuk menyaring budaya luar. Alat filter itu sudah ada namun sering kali kita abaikan, padahal alat ini merupakan alat pokok dalam kehidupan kita di bangsa ini. Alat ini adalah Pancasila, tidak kita tahu bahwasanya didalamnya terkandung nilai-nilai luhur bangsa yang mampu memberikan sekat kepada kita dalam bertindak di negara ini, tentunya berkaitan dengan kedudukan kita sebagai warga negara. Kita harusnya mampu memfilter mana sekiranya yang cocok dan mana yang tidak. Jangan takut apabila kita dibilang cupu atau jadul, memang tidak ada larangan yang mengatur tentang mengikuti mode. Namun kita tidak boleh terlalu fanatik dengan segala sesuatu, khususnya bagi pemuda seperti kita yang trekadang emosinya mudah terbakar. Kita akan dihormati apabila kita mampu memperlakukan diri kita dengan terhormat. Ingat sahabatku semua kita ini adalah berlian bagi orang tua kita dan bangsa kita. Asas moral bangsa ditentukan oleh generasi bangsa. Mari bersama-sama kita tanamkan pada diri kita untuk menjadi pribadi yang berakhlakuk karimah, istiqomah, menjunjung nilai-nilai luhur bangsa, mampu mewujudkan kehidupan bangsa yang sejahtera, adil, makmur, dan tentunya dikenal sebagai bangsa yang beretika luhur. 

Selasa, 13 Mei 2014

First Ink

Lisan merupakan senjata yang paling tajam, tiada yang mampu menandingi ketajamannya. Jika tangan terkena pisau dan berdarah masih bisa diobati, rasa sakitnya pun juga tidak terlalu lama. Namun jika lisan itu melukai hati akan sulit sekali obatnya. Maka dari itu, berhati-hatilah dengan lisan kita bisa jadi, walau kita tidak bermaksud menyakiti terkadang terselip kata yang tak sepantasnya kita ucapkan. Lisan kita ini kecil namun berpotensi untuk menimbulkan sesuatu yang amat baik begitu pula sebaliknya mampu menimbulkan perkara yang besar. Biasakanlah kita dengan kata-kata yang baik, dengan menyebut Asma-asma Allah. Masih ingatkah saudara, pepatah mengatakan "mulut mu adalah harimau mu"
Semoga kita senantiasa menjadi insan yang memiliki tutur kata baik, indah didengar, begitu pula dengan akhlak kita. Selamat berproses....:-)